Nyata, Mereka terlepas dari kesulitan dengan mentauhidkan Alloh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:
Saudaraku seiman…
Di bawah ini beberapa kisah nyata tentang orang-orang yang ketika mendapat kesulitan mereka bukannya meminta kepada;
- manusia yang dianggap pintar, baik berprofesi sebagai dukun, paranormal, guru spiritual, tukang ramal dan lainnya yang semakna dengan mereka
- orang mati yang sudah di kubur, baik yang dipandang sebagai wali, sunan atau orang shalih. (Tidak memanggil wahai husein, wahai abdul qadir jailani, wahai si fulan, wahai si fulan seperti yang diajarkan kepada penulis ketika masih belajar dalam ajaran sesat yang menyandarkan ajarannya kepada Islam).
- jin atau yang dianggap khadam dan semisalnya
- kuburan-kuburan yang dianggap keramat, bertuah dan semisalnya
- pohon-pohon yang dianggap keramat
- sungai-sungai yang dianggap sebagai pesugihan
Tetapi mereka meminta kepada ALLAH AZZA WA JALLA, AL MUDABBIR (MAHA PENGATUR), AL KHALIQ (MAHA PENCIPTA), AL MALIK (MAHA BERKUASA).
SEHINGGA AKHIRNYA MEREKA TERLEPAS DARI KESULITAN, KEGELISAHAN DAN DIBERIKAN JALAN KELUAR YANG PENUH DENGAN BERKAH.
INILAH CERITA MEREKA;
1. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dikejar-kejar oleh orang-orang kafir Quraisy dan beliau bersama Abu Bakar bersembunyi di dalam sebuah gua, ketika itu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sangat takut dan cemas akan keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi ketika mereka berdua menyandarkan diri hanya kepada Allah Ta’ala, ketika mereka metauhidkan Allah Ta’ala, apakah yang terjadi? Perhatikan kisahnya…
{ إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ } [التوبة: 40]
Artinya: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. At Taubah: 40.
أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ حَدَّثَهُ قَالَ نَظَرْتُ إِلَى أَقْدَامِ الْمُشْرِكِينَ عَلَى رُءُوسِنَا وَنَحْنُ فِى الْغَارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ أَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ فَقَالَ « يَا أَبَا بَكْرٍ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا ».
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq bercerita kepadanya, ia berkata: “Aku telah melihat kepada telapak kaki-telapak kaki kaum musyrik di atas kepala kami dan ketika itu kami sedang di dalam goa, lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jikalau salah seorang dari mereka melihat kepada kedua telapak kakinya niscaya ia akan melihat kita di bawah kedua telapak kakinya”, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, Apa yang perakiraanmu, dengan dua orang  dan Allah ketiganya.” HR. Muslim.
Akhirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu merasa tenang dan diselamatkan oleh Allah Ta’ala.
2. Nabi Musa ‘alaihissalam ketika dikejar-kejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya, dengan mentauhidkan Allah Ta’ala mereka
{فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (61) قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (62) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (63) وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ (64) وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (65)} [الشعراء: 61 - 65]
Artinya: “Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” “Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” “Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” “Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain.” “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.” QS. Asy Syu’ara: 61-65.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
ذكر غير واحد من المفسرين: أن فرعون خرج في جحفل عظيم وجمع كبير  ، وهو عبارة عن مملكة الديار المصرية في زمانه، أولي الحل والعقد والدول، من الأمراء والوزراء والكبراء والرؤساء والجنود
“Disebutkan oleh bukan satu dari ahli tafsir bahwa Fir’aun keluar membawa bala tentara yang besar dan jumlah yang banyak, dan ia adalah meruapakan kiasan dari seluruh pasukan kerajaan mesir di zamannya, majelis permusyawaratan, penjanjian dan ineternasional; baik berupa para amir, mentri, pembesar, pemimpin dan bala tentara.”
Beliau juga berkata:
{ فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ } أي: رأى كل من الفريقين صاحبه، فعند ذلك { قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ } ، وذلك أنه انتهى بهم السير إلى سيف البحر، وهو بحر القلزم، فصار أمامهم البحر، وفرعون قد أدركهم بجنوده، فلهذا قالوا: { إِنَّا لَمُدْرَكُونَ قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ } أي: لا يصل إليكم شيء مما تحذرون، فإن الله، سبحانه، هو الذي أمرني أن أسير هاهنا بكم، وهو لا يخلف الميعاد.
“Ketika kedua kelompok melihat” maksudnya adalah kedua kelompok melihat kepada lawannya, maka saat itu, berkatalah pengiukut Nabi Musa “alaihissalam: “Kita akan didapati oleh mereka.”, karena pada waktu itu, perjalanan mereka sudah sampai ke ujung panta, dan ia adalah lautan al Qalzum, akhirnya dihadapan mereka terdapat lauitan dan Fir’aun telah menghampiri mereka dengan bala tentaranya, oleh sebab itulah mereka mengatakan: “Kita akan di dapati, ia (Musa) berkata: “Tidak sama sekali, sesungguhnya bersamaku Rabbku yang akan memberikan petunjuk kepadaku.” Yaitu maksudnya tidak akan sampai kepada kalian apa yang kalian takutkan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dialah yang telah memerintahkan kepadaku untuk berjalan ke sini bersam kalian. Dan Dia tidak mengingkari janji.
Beliau juga berkata:
وكان هارون، عليه السلام، في المقدمة، ومعه يوشع بن نون، [ومؤمن آل فرعون وموسى، عليه السلام، في الساقة، وقد ذكر غير واحد من المفسرين: أنهم وقفوا لا يدرون ما يصنعون، وجعل يوشع بن نون] (1) ، أو مؤمن آل فرعون يقول لموسى، عليه السلام: يا نبي الله، هاهنا أمرك الله أن تسير؟ فيقول: نعم، واقترب فرعون وجنوده، ولم يبق إلا القليل، فعند ذلك أمر الله نبيه موسى أن يضرب بعصاه البحر، فضربه، وقال: انفلق بإذن الله.
“Harun ‘alaihissalam berada di depan bersamadengan Yusya’ bin Nun sedangkan orang-orang yang beriman dari keluarga Fir’aun dan Musa ‘alaihissalam di belakang, dan telah disebutkan tidak satu dari para ahli tafsir; bahwa mereka berhento tidak mengetahui apa yang mereka (harus) perbuat, dan ketika tu YUsya’ bin Nun atau orang-orang beriman dari keluarga Fir’aun berkata kepada Musa ‘alaihissalam: “Wahai Nabi Allah, apakah disini Allah telah memereintahkanmu untuk berjalan?, beliau menjawab: ‘Iya, dan mendekatlah Fir’aun dan bala tentaranya dan tidak tersisa kecuali sedikiy, mka ketika itu Allah Ta’ala memerintahkan nabi-Nya Musa untuk memukul lautan dengan tongkatnya, lalau Musa memukulkannya dan berkata: “Terbukalah dengan izin Allah.” Lihat Kitab Tafsir IBnu Katsir di dalam ayat. Ini.
Saudaraku seiman…
Lihatlah ketika Nabi Musa ‘alaihissalam menyandarkan diri kepada Allah, ketika beliau mentauhidkan hanya Allah Ta’ala, maka Allah menyelamatkan beliau dan pengikutnya dan menenggelamkan musuhnya Fir’aun dan bala tentaranya.
3. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ‘alaihissalam yang selamat ketika proses pembakaran oleh kaumnya karena mentauhid Allah Ta’ala, mari simak kisahnya
{قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (62) قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (63) فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ (64) ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ (65) قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ (66) أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (67) قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69) وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ (70) } [الأنبياء: 62 - 71]
Artinya: “Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?.” “Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” “Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).” “Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” “Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?.” “Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” “Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” “Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” QS. Al Anbiya’: 62-71.
Saudaraku seiman…
Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menjadikan api tersebut dingin dan mendatangkan keselamatan kepada nabi Ibrahim dalam rangka menyelamatkannya, setelah Nabi Ibrahim mentauhidkan Allah Ta’ala dengan menghina sembahan-sembahan selain Allah yang tidak dapat memberikan manfaat sedikitpun dan juga tidak dapat menahan bahaya.
4. Nabi Yunus ‘alaihissalam selamat kembali ke tepian dan daratan setelah mentauhidkan Allah Ta’ala, dengan bersandar hanya kepada-Nya, padahal setelah beliau di dalam lautan dan bahkan di dalam perut ikan, simak kisah beliau:
{وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (139) إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (140) فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ (141) فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ (142) فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)} [الصافات: 139 - 144]
Artinya: “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,” “(ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan.” “kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.” “Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” “Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”
{وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)} [الأنبياء: 87، 88]
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” QS. Al Anbiya’: 87-88.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
قال ابن مسعود: ظلمة بطن الحوت، وظلمة البحر، وظلمة الليل.
“Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu berkata: “(maksud dari “di dalam kegelapan-kegelapan”) adalah kegelapan di dalam perut ikan, kegelaan lautan dan kegelapan makan.”
قال ابن مسعود، وابنُ عباس وغيرهما: وذلك أنه ذهب به الحوتُ في البحار يَشُقُّها، حتى
انتهى به إلى قرار البحر، فسمع يونسُ تسبيح الحصى في قراره ، فعند ذلك وهنالكَ قال: { لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ }
“Abdullah bin Mas’ud dan IBnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dan hal itu adalah ikan membawanya ke dalam  lautan membelahnya, sampai kepada dasar lautan, maka Nabi Yunus mendengar ucapan Subhanallah dari bebatuan di dalam dasar lautan, maka ketika itu dan di sana ia berkata:
{ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ }
وقال عوف: لما صار يونس في بطن الحوت، ظن أنه قد مات، ثم حرك رجليه فلما تحركت سجد مكانه، ثم نادى: يا رب ، اتخذت لك مسجدًا في موضع ما اتخذه أحد.
“Berkata ‘Auf  rahimahullah: “Ketika Yunus berada di dalam perut ikan, ia mengira bahwa dirinya sudah mati, kemudian ia menggerakkan kedua kakinya, ketika bergerak langsung beliau sujud di tepat itu, kemudian beliau berdoa: “Wahai Rabbku, aku menjadikan untuk tempat sujud di tempat yang tidak seorangpun menjadikannya tempat sujud.”
وقوله: { فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ } أي: أخرجناه من بطن الحوت، وتلك الظلمات، { وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ } أي: إذا كانوا في الشدائد ودَعَونا منيبين إلينا، ولا سيما إذا دعوا بهذا الدعاء في حال البلاء
“Dan Firman-Nya: “Dan Kami kabulkan doanya dan selamatkan ia dari kesulitan”, yaitu: “Kami keluarkan ia dari perut ikan dan dari kegelapan-kegelapan itu, dan demikianlah “Kami selamatkan kaum beriman” yaitu jika mereka di dalam kesulitan dan mereka berdoa dan kembali kepada Kami, terutma jika mereka berdoa dengan doa ini dalam keadaan mendapat bala musibah.” Lihat tafsir Ibnu Katsir, 5/366-368.
Saudaraku seiman…lihatlah Nabi Yunus ‘alaihissalam diselamatkan Allah Ta’ala dari kegelapan dan dari perut ikan, setelah mentauhidkan Allah dengan bermunajat hanya kepada-Nya.
5. Nabi Zakaria ‘alaihissalam mendapat anak dalam keadaan beliau dan istrinya sudah tidak mungkin lagi mendapatkan anak, mari simak kisahnya…
{وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ (89) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (90) } [الأنبياء: 89، 90]
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Rabbnya: “Wahai Rabbku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” QS. Al Anbiya’: 89-90.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
يخبر تعالى عن عبده زكريا، حين طلب أن يَهبَه الله ولدا، يكون من بعده نبيًا. وقد تقدمت القصة مبسوطة في أول سورة “مريم” وفي سورة “آل عمران” أيضا، وهاهنا أخصر منهما؛ { إِذْ نَادَى رَبَّهُ } أي: خفية عن قومه: { رَبِّ لا تَذَرْنِي فَرْدًا } أي: لا ولدَ لي ولا وارثَ يقوم بعدي في الناس، { وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ } دعاء وثناء مناسب للمسألة.
“Allah Ta’ala mengkhabarkan tentang hamba-Nya Zakaria, ketika meminta agar Allah menganugerahkan kepadanya seorang anak lelaki yang akan menjadi nabi sepeninggalnya, dan telah disebutkan di dalam kisah-kisah secara terbuka di awal surat Maryam dan di dalam surat Ali Imran juga, dan disini saya sebutkan dari keduanya: “Ketika beliau berdoa kepada Rabb-Nya”, yaitu tersembunyi dari kaumnya, “Wahai Rabbku, jangan tinggalkan aku sendirian”, maksudnya yaitu tidak ada anak lelaki untukku dan tidak ada ahli waris  yang akan berdiri menggantikanku di tengah-tengah manusia”, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi ahli waris.” Ini adlah doa dan ujian yang sesuai dengan permintaan.” Lihat tafsir Ibnu Katsir,5/370.
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7) قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8) قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا (9) } [مريم: 7 - 10]
Artinya: “Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” “Zakaria berkata: “Wahai Rabbku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua.” “Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.” “Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda”. Tuhan berfirman: “Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat.” QS. Maryam: 7-10.
Saudaraku seiman…cerita yang ajaib tapi nyata…
Kemandulan istri dan ketua rentaan suami, dua sebab yang mustahil dengan ada keduanya akan mendatangkan anak, tetapi ketika Nabi Zakaria ‘alaihissalam berdoa hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya, ketika Nabi Zakaria ‘alaihissalam mentauhidkan Allah, maka yang mustahil menjadi mungkin dan bahkan benar-benar telah terjadi. Subhanallah…
Semoga setelah ini, sebagai seorang muslim kita lebih meyakini bahwa dengan mentauhidkan Allah Ta’ala, bermunajat kepada-Nya, bersandar hanya kepada-Nya semua urusan pasti ada jalan keluar dan jalan keluarnyapun penuh dengan berkah dari Allah Ta’ala.
Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Kamis, 6 Rajab 1434H, Dammam KSA.

Doa tidak dikabulkan

Dihikayatkan bahwa Ibrahim bin Adham radhiyallahu ‘anhu melewati pasar di Bashrah, lalu orang-orang mengerumuninya dan berkata kepadanya, “Wahai Abu Ishaq! Ada apa dengan kami, kami telah berdoa tetapi tidak terkabul?”

Beliau menjawab, “Lantaran hati kalian semua telah mati dengan sepuluh perkara, yaitu:

Pertama, kalian mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi kalian tidak mau memberikan hak-Nya.

Kedua, kalian menganggap diri kalian cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kalian meninggalkan sunahnya.

Ketiga, kalian telah membaca Alquran, tetapi kalian tidak mengamalkannya.

Keempat, kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh kalian, tetapi kalian tidak berlawanan dengannya.

Kelima, Kalian memakan nikmat dari Allah tapi tidak menunaikan haknya.

Keenam, kalian berkata bahwa surga adalah kepastian, tetapi kalian tidak melakukan amal perbuatan untuknya.

Ketujuh, kalian berkata bahwa neraka adalah kepastian, tetapi kalian tidak menghindarinya.

Kedelapan, kalian berkata bahwa kematian adalah kepastian, tetapi kalian tidak melakukan persiapan untuknya.

Kesembilan, kalian bangun dari tidur, lalu kalian menyibukkan diri dengan aib-aib orang lain sedangkan kalian melupakan aib kalian sendiri.

Kesepuluh, kalian menguburkan orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran darinya.’

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

10 Kaidah Menuju Istiqomah (Makalah kajian islam Ilmiyyah oleh Ustad DR Muhammad Nur Ihsan,MA di Batam 31 Des 2010-1 Jan 2011)

بسم الله الرحمن الرحيم

SEPULUH KAEDAH MENUJU ISTIQOMAH

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

Pembahasan tentang istiqomah merupakakan permasalahan yang sangat penting yang menempati pososi yang tinggi dalam agama yang mulia ini, karena ia adalah paktor utama untuk menggapai kebahagian dunia akhirat, keberuntungan seorang hamba serta kebaikkan seluruh urusannya.

Allah Ta’ala berfirman:

 (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (13) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (14) الأحقاف: ١٣ – ١٤.

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

 (إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ (32) فصلت: ٣٠ – ٣٢. 30.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. 32. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 وعَنْ سُفيانَ بن عبدِ اللهِ – رضي الله عنه – ، قالَ : قُلتُ : يا رَسولَ اللهِ ، قُلْ لي في الإسلام قولاً لا أسألُ عَنْهُ أحداً غَيرَكَ ، قال : (( قُلْ : آمَنْتُ باللهِ ، ثمَّ استقِمْ )) رواهُ مُسلم.

 “Dari Sufyan Bin Abdullah radiyallahu ‘anha berkata: saya berkata: Wahai Rasulullah! Katakana kepadaku subuah perkataan dalam islam yang saya tidak akan menanyakannya kepada selaim mu, beliau berkata: “katakanlah: Aku beriman kepada Allah kemudian istiqomahlah “. Oleh karenanya merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengenal makna istiqomah memudian mengamalkannya serta mengatahui prinsip prinsip dasar untuk menuju istiqomah dan teguh diatasnya.

Berikut 10 prinsip dasar/kaedah untuk menuju istiqomah:

Kaedah pertama: istiqomah adalah nikmat dan pemberian dari Allah.

Didalam Al Qur’an dan Sunnah terdapat banyak dalil yang menjelaskan bahwa hidayah (petunjuk) hanya ada di tangan Allah Ta’ala, Dia-lah yang menunjuki orang yang dikehendaki dari hamba-Nya kepada kebenaran dan jalan yang lurus, dan Dia-lah yang menyesatkan orang yang dikehendakinya –sesuai dengan keadilan-Nya- sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 ( ولو أنهم فعلوا ما يوعظون به لكان خيرا لهم وأشد تثبيتا * وإذا لآتيناهم من لدنا أجرا عظيما * ولهديناهم صراطا مستقيما ). النساء 66-68.

Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka, dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami”. dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

( فأما الدين آمنوا بالله واعتصموا به فسيدخلهم في رحمة منه وفضل ويهديهم إليه صراطا مستقيما ). النساء: ١٧٥.

 “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya”.

 ( والله يدعو إلى دار السلام ويهدي من يشاء إلى صراط مستقيم ) يونس: 25.

 Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).

( والذين كذبوا بآياتنا صم وبكم في الظلمات، من يشأ الله يضلله ومن يشأ يجعله على صراط مستقيم) الأنعام: 39.

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya[473]. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus”.

( والله يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم) النور: 46.

“Allah menujuki orang yang dikehendakinya kepada jalan yang lurus”. Dan ayat ayat lain yang senada dengan ayat ayat diatas. Oleh karenanya usaha pertama yang wajib dilakukan oleh seorang hambah menuju istoqomah adalah bermunajat kepada Allah dan meminta hidayah dari-Nya agar selalu istoqomah diatas agama yang mulia. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dimana beliau selalu berdo’a dalam sujudnya dengan doa berikut:

 ((ما مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك)).

“Ya (Allah) yang memutar balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu”.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata:

 (يا رسول الله: أو إن القلوب لتتقلب؟ قال: نعم، ما من خلق الله من بني آدم من بشر إلا أن قلبه بين أصبعين من أصابع الله فإن شاء أقامه وإن شاء أزاغه). رواه أحمد والترمذي.

“Ya Rasulullah, apakah hati berbolak balik? beliau menjawab: Ya, tidaklah seorangpun makhluk dari anak cucu adam dari manusia, kecuali hatinya diantara dua jari dari jari jari Allah, maka jika Allah menghendaki akan Ia tegakkan (luruskan) dan jika Ia menghendaki akan di selewengkan”. (H.R Ahmad dan Tirmizi). jadi barangsiapa yang ingin istiqomah hendaklah ia berdo’a kepada Allah Ta’ala agar selalu istiqomah diatas jalan yang lurus. Oleh karenanya, Rasulullah memulai sholat malamnya dengan do’a meminta petunjuk kepada jalan yang lurus, sebagaimana yang diriwaytkan oleh A’isyah –radhiyallahu ‘anha- bahwa ia ditanya tentang do’a yang diucapkan oleh Rasulullah apabila ingin mendirikan sholat malam (tahajjud), beliau menjawab:

 ( كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ « اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ». رواه مسلم (1847).

“adalah beliau apabila ingin melakukan sholat malam beliau membukanya (dengan doa) “Ya Allah, Rab Jibril, Mikail dan Israfiil, Yang Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui yang gaib dan tampak, Engkaulah yang menghukumi antara hambah hambah-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan, tunjukkilah aku dengan izin-Mu kepada kebenaran tentang perkara yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkaulah yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus”. Hal ini menjelaskan betapa besarnya keperluan kita terhadap hidayah dalam gerak gerik dan usaha kita, oleh karenanya Allah Ta’ala mewajibkan atas kita membaca surat al fatihah sebayak 17 kali dalam sholat lima waktu sehari semalam yang didalamnya terkandung do’a untuk meminta petunjuk.

Imam Hasan Al Basri tatkala membacam firman Allah:

 (إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا).

Ia berdo’a: “Ya Allah, Engkau adalah Rab kami, maka berilah kami keistiqomahan”. (Tafsir At Taberi 21/465).

Kaedah kedua: kakekat istiqomah adalah mengikuti manhaj yang benar dan berjalan diatas yang lurus.

Untuk menjelaskan makna dan hakikat istiqomah kita perlu merujuk kepada perkataan salafus sholeh, diantara perkataan mereka dalam hal ini sebagai berikut:

Abu Bakar Shiddiq dalam menafsirkan ayat

 (إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا)

ia berkata: “yaitu orang orang yang tidak melakukan kesyirikan kepada Allah dengan sesuatu apapun”. (Tafsir Ath Thabari).

Diriwayatkan dari Umar Bin Khaththab dalam menafsirkan ayat diatas:

 (لم يروغوا روغان الثعلب)

 “mereka yang tidak berbolak balik (bejalan kesana sini untuk menipu) seperti penipuan musang”. Dari Ibnu Abbas beliau berkata: (ثم استقاموا) artinya : “(istiqomah diatas syahadat “laa Ilaaha illallah (tauhid)”. Makna yang sama diriwyatkan dari Anas Bin Malik, Mujahid, Aswad Bin Hilal, Zaid Bin Aslam, Assuddi, Ikrimah dan yang lain. Diriwyatkan dari Ibnu Abbas juga bahwa beliau menafsirkan ayat diatas seraya berkata: “yaitu mereka yang istiqomah dalam melaksanankan kewajibaan (agama)”. Abul Aliyah berkata: “maksudnya: kemudian mereka mengikhlaskann agama dan amalan kepada Allah”. Dari Qotadah beliau berkata: “maksudnya: mereka istiqomah dalam keta’atan kepada Allah”. Imam Ibnu Rojab –setelah menyebutkan nukilan nukilan diatas- menyimpukan makna istiqomah sebagai berikut:

(والاستقامة : هي سلوكُ الصِّراط المستقيم ، وهو الدِّينُ القيِّم من غير تعريج عنه يَمنةً ولا يَسرةً ، ويشمل ذلك فعلَ الطَّاعات كلّها ، الظاهرة والباطنة ، وتركَ المنهيات كُلِّها كذلك ، فصارت هذه الوصيةُ جامعةً لخصال الدِّين كُلِّها). جامع العلوم والحكم.

“Istiqomah ialah: berjalan diatas jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus tanpa menyimpang darinya kekanan dan kekiri, dan hal itu mencakup melakukan seluruh keta’atan yang lahir dan batin dan begitu juga meninggalkan seluruh larangan, maka jadilah wasiat ini mencakup seluruh kewajiban agama”.

 وقال الإمام ابن القيم : (فالاستقامة كلمة جامعة آخذة بمجامع الدين وهي القيام بين يدي الله على حقيقة الصدق والوفاء بالعهد) مدارج السالكين

 (2/105).

“Maka istiqomah adalah kalimat yang universal yang mencakup seluruh perkara agama, yaitu berdiri dihadapan Allah diatas kejujuran yang sebenaranya dan melaksanakan janji”.

Kaedah ketiga: asal istiqomah adalah keistiqomahan hati.

Imam Ahmad meriwyatkan dari hadits Anas Bin Malik dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam berliau bersabda:

 (لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه). رواه أحمد (13048) وحسنه الألباني في الصحيحة (رقم: 2841).

 “Tidaklah akan istiqomah (lurus/ benar) iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya”. Jadi asal keistiqomaan adalah keistiqomaan hati, apabilah hati telah baik dan istiqomah maka badan ikut baik dan istiqomah.

 Ibnu Rojab berkata:

(فأصلُ الاستقامةِ استقامةُ القلب على التوحيد ، كما فسر أبو بكر الصِّديق وغيرُه قولَه : { إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا } بأنَّهم لم يلتفتوا إلى غيره ، فمتى استقام القلبُ على معرفةِ الله ، وعلى خشيته ، وإجلاله ، ومهابته ، ومحبته ، وإرادته ، ورجائه ، ودعائه ، والتوكُّلِ عليه ، والإعراض عما سواه ، استقامت الجوارحُ كلُّها على طاعته ، فإنَّ القلبَ هو ملكُ الأعضاء ، وهي جنودهُ ، فإذا استقامَ الملك ، استقامت جنودُه ورعاياه) جامع العلوم والحكم.

“Maka asal keistiqomaan adalah keistiqomaan hati diatas tauhid, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Abu Bakr Siddiiq dan yang lain tentan firman Allah (إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا) yaitu mereka yang (hatinya) tidak melirik kepada selain Allah, maka apabila hati telah istiqomah diatas ma’rifatullah (mengenal Allah), takut kepada-Nya, pengagungan-Nya, kecintaan kepada-Nya, keinginan (kepada)-Nya, berharap kepada-Nya, berdo’a kepada-Nya, betawakal kepada-Nya dan berpaling (hati) dari selain-Nya, maka akan istiqomah seluruh anggota tubuh diatas keta’atan kepada-Nya, maka sesungguhnya hati adalah raja bagi seluruh anggota, dan anggota adalah bala tentaranya, maka jika raja telah istiqomah maka bala tentara dan rakyatnya akan istiqomah”.

Didalam hadits Nu’man Bin Basyiir , Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda:

 (أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ ».

 “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam tubuh (jasad) ada segumpal daging apabila ia baik maka seluruh jasad akan menjadi baik, dan apabilah ia rusak maka akan rusak seluruh jasad, ia adalah hati”.

Dan imam Ibnu Qoyyim berkata:

 (ولما كان القلب لهذه الأعضاء كالملك المتصرف في الجنود الذي تصدر كلها عن أمره ويستعملها فيما شاء فكلها تحت عبوديته وقهره وتكتسب منه الاستقامة والزيغ وتتبعه فيما يعقده من العزم أو يحله قال النبي صلى الله عليه وسلم: (ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله) فهو ملكها وهي المنفذة لما يأمرها به القابلة لما يأتيها من هديته ولا يستقيم لها شيء من أعمالها حتى تصدر عن قصده ونيته وهو المسئول عنها كلها). مدارج السالكين (1/5).

 “Dan tatkala hati bagi anggota (tubuh) bagaikan seorang raja yang berkuasa pada bala tentaranya yang seluruhnya mengambil dari perintahnya, dan ia memanfaatkannya dalam urusan yang ia kehendaki, maka seluruhnya berada dibawah ubudiyah dan kekuasaannya, mereka mendapatkan keistiqomaan dan penyimpangan darinya, dan mengikutinya dalam urusan yang ia tetapkan dan batalkan, Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam tubuh (jasad) ada segumpal daging apabila ia baik maka seluruh jasad akan menjadi baik” , maka ia (hati) adalah rajanya, dan anggota tubuh adalah pelaksana apa yang diperintahkannya, menerima hadiyah yang datang darinya kepada mereka, dan tidaklah akan istiqomah sedikitpun dari amalanya keculai bila bersumber dari maksud dan keinginannya, dan ia (hati) atas seluruhnya”.

Oleh karenanya Allah Ta’ala berfirman:

 ( يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم). الشعراء: ٨٨ – ٨٩.

Dan diantara do’a Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam: ((اللهم إني أسألك قلبا سليما)). رواه أحمد (17114) والنسائي (1304) وصححه الألباني (2328). “Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat (bersih)”. Kaedah keempat: Yang di tuntut dalam istiqomah adalah (السداد) “sesuai dengan sunnah” jika tidak, mendekatinya.

Kedua perkara ini telah telah digabungkan oleh Rasulullah dalam hadits berikut:

 (إن الدين يسر ولم يشاد الدين أحد إلا غلبه، فسددوا وقاربوا وأبشروا).

 “sesungguhnya agama adalah mudah, dan tidaklah sesorang mempersulit agama kecuali ia akan dikalakannya, maka berbuatlah sesuai dengan sunnah, dan dekatilah serta bergembiralah”. (H. R Bukhari, 39, 6463). Dan Nabi shalalallahu’alaihi wasallam berkata kepada Ali Bin Abi Thalib tatkala meminta kepadanya untuk diajarkan do’a yang diucapkan:

(قل : اللهم اهدني وسددني) قال: (واذكر بالهدى هدايتك الطريق، والسداد سداد السهم). رواه مسلم (2725).

“katakanlah: Ya Allah, tunjukilah aku, dan benarkanlah aku”. Beliau berkata: “dan ingat tentang petunjuk penujukmu kepada jalan, dan kecocokan dengan sunnah tepatnya anak pana”. Oleh karenanya seorang hamba dituntut untuk berusaha dengan sungguh sungguh agar sesuai dengan kebenaran, sesuai dengan sunnah Rasul dan jalan-nya, jika tidak mampu melakukan hal itu, maka hendaklah ia mendekati, Allah Ta’ala berfirman:

 (فاستقيموا إليه واستغفروه) فصلت: ٦

“Maka istiqomahlah kepada Allah dan minta ampunlah (kapada-Nya)”. Perintah untuk beristigfar setelah istiqomah sebagai isyarat bahwa seorang hambah sekalipun ia telah bersungguh sungguh pasti ada kekurangan dalam melakukan istiqomah, makanya ia dituntut untuk istigfar. Rasulullah telah mengabarkan bahwa manusia tidak akan mampu untuk mengaplikasikan makna istiqomah dengan sebenarnya, sebagaimana dalam hadits:

(استقيموا ولن تحصوا، واعملوا أن خير أعمالكم الصلاة، ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن). رواه أحمد وابن ماجة. وفي رواية لأحمد: (سددوا وقاربوا ولا يحافظ على الوضوء إلا مؤمن).

 “istiqomahlah kamu, dan sekali kali kamu tidak akan mampu, dan ketahuilah bahwa sebaik baik amalanmu adalah sholat, dan tidaklah mejaaga wudhu’ kecuali seorang muslim”. Dalam riwayat Ahmad: “maka tepatilah sunnah, dan dekatilah, dan tidaklah menjaga wudhu’ kecuali seorang mukmin”. As sadaad adalah hakekat istiqomah, yaitu kecocokan dengan sunnah dalam seluruh perkataan, perbuatan dan niat, seperti seorang pemana yang tepat tujuan, jiga tidak, mendekakati tujuan.

Dalam hadits Al Hakam Bim Huzn Al Kulfi :

 (يا أيها الناس ! إنكم لن تعملوا – أو لن تطيقوا- كل ما أمرتُكم، ولكن سددوا وأبشروا). رواه مسلم.

Kaedah kelima: istiqomah berkaitan dengan perkataan, perbuatan dan niat.

Maksudnya : seorang hamba dituntut untuk selalu istiqomah dalam perkataan, perbuatan dan niatnya serta seluruh prihalnya.

Ibnu Qoyyim berkata:

 (والاستقامة تتعلق بالأقوال والأفعال والأحوال والنيات). مدارج السالكين.

Dalam hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah bersabda:

 (لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه، ولا يستقيم قلبه حتى يستقيم لسانه)

Ibnu Rojab berkata:

 (وأعظم ما يراعي استقامته بعد القلب من الجوارح اللسان، فإنه ترجمان القلب والمعبر عنه) جامع العلوم والحكم.

“dan sesuatu yang paling utama diperhatikan keistiqomaannya setela hati dari anggota tubuh adalah lisan, maka ia adalah penenjemah isi hati dan yang mengungkapkannya”. Ini menjelaskan pentingnya hati dan lisan dalam bab istiqomah, sebagian ulama berkata: (المرء بأصغريه قلبه ولسانه).

Pertama: hati, dalilnya sabda Rasulullah:

 ( (أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ »).

Kedua: lisan, dalilnya sabda Rasulullah :

 (إذا أصبح ابن آدم فإن الأعضاء كلها تكفر اللسان، فتقول: اتق الله فينا، فإنما نحن بك، فإن استقمت استقمنا، وإن اعوججتَ اعوججنا). رواه الترمذي (2407) وحسنه الألباني في “صحيح الترغيب” (2871).

 Oleh karenanya wajib bagi setiap muslim untuk memperbaiki hati dengan membersihkannya dari bermacam penyakit hati, dan memelihara lisannya dan memperbaikinya dengan perkataan perkataan yang baik dan memperbaiki anggota tubuhnya dengan amal sholeh.

Kaedah keenam: tidaklah terlaksana istiqomah kecuali karena Allah, dengan Allah dan diatas perintah Allah.

1- (Karena Allah), maksudnya seorang hambah dalam istiqomahnya dan bejalan diatas jalan yang lurus hanya ikhlas karena Allah.

 (وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين). 2- (dengan Allah), maksudnya minta pertolongan kepda Allah dalam mengaplikasikan istiqomah, melaksanakan dan teguh diatasnya. (فاعبده وتوكل عليه) (هود: 123) وقال: (إياك نعبد وإياك نستعين). Dalam hadits: (احرص على ما ينفعك واستعن بالله). مسلم (2664). 3- (diatas perintah Allah) maksudnya ia berjalan dalam keistiqomaanya diatan manhaj yang benar dan jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, sbagaimana firman Allah : (فاستقم كما أمرت ولا تطغوا ) (هود: 112). قال ابن عباس في قوله تعالى: (ثم استقاموا) أي: (استقاموا في أداء الفرائض). وقال الحسن البصري: (استقاموا على أمر الله، فعملوا بطاعته، واجتنبوا معصيته).

Kaedah ketujuh: seorang hambah sekalipun telah istiqomah akan tetapi jangan ia bergantung semata mata kepada amalannya.

Sekalipun seseorang telah melakukan amalan yang banyak dan baik serta ia telah istiqomah diatas kebenaran dan keta’atan kepada Allah, maka tidak sepantasnya ia pasrah dan mengandalkan amalan tersebut dan sombong dan merasa telah selamat dengan amalannya, akan tetapi ia selalu mengharapkan rahmat Ilahi yang akan memasukkannya kedalam syurga

. قال ابن القيم: (والمطلوب من العبد الاستقامة وهي السداد فإن لم يقدر عليها فالمقاربة فإن نزل عنها : فالتفريط والإضاعة كما في صحيح مسلم من حديث أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي قال : (سددوا وقاربوا واعلموا أنه لن ينجو أحد منكم بعمله قالوا : ولا أنت يا رسول الله قال : ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة منه وفضل) فجمع في هذا الحديث مقامات الدين كلها فأمر بالاستقامة وهي السداد والإصابة في النيات والأقوال والأعمال وأخبر في حديث ثوبان : أنهم لا يطيقونها فنقلهم إلى المقاربة وهي أن يقربوا من الاستقامة بحسب طاقتهم كالذي يرمي إلى الغرض فإن لم يصبه يقاربه ومع هذا فأخبرهم : أن الاستقامة والمقاربة لا تنجي يوم القيامة فلا يركن أحد إلى عمله ولا يعجب به ولا يرى أن نجاته به بل إنما نجاته برحمة الله وعفوه وفضله). مدارج السالكين .

“dan yang dituntut dari seorang hambah adalah istiqomah, yaitu kecocokan dan sunnah, jika tidak mampu maka mendekatinya, maka jika kurang dari itu maka itu adalah sikap meremekan dan menyia nyiakan, sebagaimana dalam hadits muslim dari hadits Abu Hurairah r.a, dari nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “tepatkanlah (dengan sunnah) dan dekatilah, dan ketahuilah bahwa tidak seorangpun dari kamu akan selamat degan (sekedar) amalannya, mereka bertanya: juga kamu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, juga saya, kecuali bila Allah merahmatiku dengan rahmat-Nya dan kemulian-Nya”.

Maka beliau menggabungkan dalam hadits ini seluruh tingkatan agama, maka ia perintahkan untuk istiqomah yaitu sadaad (sesuai dengan sunnah) dalam niat, perkataan, amalan. Dan dalam hadits Tsuban beliau mengabarkan bahwan: “mereka tidak akan mampu melakukan istiqomah secara utuh, maka beliau pindahkan mereka untuk mendekati, yaitu agar mereka mendekati istiqomah sesuai dengan kemampuan mereka, seperti seorang pemana yang ingin mengenai tujuan, jika tidak bisa mendekatinya, bersamaan dengan ini beliau mengabarkan bahwa istiqomah dan mendekatainya tidaklah akan mampu menyelamatkan pada hari kiamat, maka janganlah seseorang mengandalkan amalanya dan jangan ia sombong dan jangan menyangka bahwa keselamtannya dengan hal itu, akan tetapi keselamatannya adalah dengan rahmat Allah, keampunan dan kemulian-Nya”.

Kaedah kedelapan: buah istiqomah di dunia adalah istiqomah berjalan diatas jalan kesyurga pada hari kiamat.

Barangsiapa yang istiqomah berjalan diatas jalan yang lurus di dunia ini maka ia akan selamat berjalan diatas jalan yang Allah bentangi diatas neraka yang harus mesti dilewati untuk menuju syurga, jalan tersebut lebih tajam dari pedang dan lebih halus dari rambut. Imam Ibnu Qoyyim berkata:

(فمن هدى في هذه الدار إلى صراط الله المستقيم الذي أرسل به رسله وأنزل به كتبه هدى هناك إلى الصراط المستقيم الموصل إلى جنته ودار ثوابه، وعلى قدر ثبوت قدم العبد على هذا الصراط الذي نصبه الله لعباده في هذه الدار يكون ثبوت قدمه على الصراط المنصوب على متن جهنم، وعلى قدر سيره على هذه الصراط يكون سيره على ذاك الصراط، فمنهم من يمر كالبرق ومنهم من يمر كالطرف ومنهم من يمر كالريح ومنهم من يمر كشد الركاب ومنهم من يسعى سعيا ومنهم من يمشي مشيا ومنهم من يحبوا حبوا ومنهم المخدوش المسلم ومنهم المكردس في النار، فلينظر العبد سيره على ذلك الصراط من سيره على هذا حذو القذة بالقذة جزاء وفاقا (هل تجزون إلا ما كنتم تعملون). ولينظر الشبهات والشهوات التي تعوقه عن سيره على هذا الصراط المستقيم فإنها الكلاليب التي بجنبتي ذاك الصراط تخطفه وتعوقه عن المرور عليه فإن كثرت هنا وقويت فكذلك هي هناك وما ربك بظلام للعبيد). مدراج السالكين (1/10). وانظر أيضا : الجواب الكافي (ص 123).

“Maka barangsiapa yang ditunjuki di dunia ini kepada jalan Allah yang lurus yang diutus dengan para rasul dan diturnkan dengannya kitab kitab-Nya, maka ia akan ditunjuk disana (akhirat) kelak kepada jalan yang lurus yang membawa kepada syurga, dan sesuai dengan keteguhan kaki seorang diatas jalan yang telah di jelaskan oleh Allah kepada hamba-Nya di dunia ini begitu juga kakinya akan tetap kokoh berjalan diatas jalan yang dibentangkan diatas neraka. Dan sesuai dengan perjalanan dia diatas jalan ini didunia begitu juga perjalanannya diatas jalan tersebut diakhirat, diantara mereka ada yang berjalan seperti kilat, diantara mereka melewati seperti kedipan mata, diantara mereka ada yang melewati seperti angin, diantara mereka ada yang tersandung yang selamat, dan diantara mereka ada yang terjerumus kedalam nereka. Maka hendaklah seorang hamba memperhatikan perjalanannya diatas jalan tersebut sebagaimana perjalanannya diatas jalan ini, sama halnya, sebagai balasan yang sempurna, (mereka tidaklah diberi balasan kecuali apa yang mereka lakukan”). Dan hendaklah ia meperhatikan syubuhat dan syahawat yang menghalang perjalanannya diatas jalan yang lurus ini (didunia), maka sesungguhnya ia adalah kalaaliib (kaitan kaitan yang bengkok ujungnya) yang bergantungan di kiri kanan jalan tersebut yang akan mengkait dan menghalangnya dari berjalan diatas jalan tersebut, jika kaitan kaitan tersebut banyak dan kuata di dunia ini maka begitu jua ia di sana (diakhirat), dan Allah tidak menzdolimi hamba-Nya”.

Kaedah kesembilan: penghalang dari istiqomah adalah syubuhat kesesatan atau syahawat nafsu.

Syubuhat dan syahawat adalah penghalang utama untuk istiqomah, makanya hendaklah setiap muslim menjahuan diri dari syahawat dan syubuhat agar mampu istiqomah diatas jalan yang lurus. Setiap yang menyimpang dari istiqomah, diada lain kecuali karena syahawat dan syubuhat, syahawat adalah kerusakan dalam amalan dan syubuhat adalah kerusakan dalam ilmu. Allah Ta’ala berfirman: ﮋ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮊ الأنعام: ١٥٣. Dalam hadits Abdullah Bin Mas’ud beliau berkata: (خط لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم خطا، ثم قال : هذا سبيل الله، ثم خط خطوطا عن يمنه وعن شماله، ثم قال: هذه سبل، على كل سبيل منها شيطان يدعو إليه، ثم قرا: (وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله). رواه أحمد (4142).

Dan syetan mengajak manusia kepada kesesatan dan mengeluarkan mereka dari kebenaran dengan dua cara: Syubuhat atau Syahawat. Apabila ia melihat sesorang Thafriith (tidak perhatian dan meremehkan) maka ia hiasi baginya syahawat, dan jika ia meliahat seseorang rajin dan bersungguh sungguh maka ia jerumuskan kedalam syubuhat. Sebagian salaf berkata: , (ما أمر الله تعالى بأمر إلا وللشيطان فيه نزغتان: إما إلى تفريط وتقصير، وإما مجاوزة وغلوا، ولا يبالي بأيهما ظفر). “tidaklah Allah perintahkan suatu perkara kecuali syetan memliki dua cara (untuk menyesatkan) dalam hal itu: baik dengan cara tafriith (tidak berhatian) dan meremekan, atau dengan melampaui batas dan berlebihan, dan ia tidak perduli dengan cara manakah ia berhasil”.

Imam Ibnu Qoyyim berkata: “Sungguh mayoritas manusia –kecuali sangat minoritas-telah terjerumus kedalam dua lembah ini: lembah meremekan (taqshiir) dan lembah melampaui batas dan berlebihan, dan minoritas dari mereka yang teguh berjalan diatas jalan yang diikuti oleh Rasulullah shalallahu’alahi wasallam dan para shahabatnya”. (Igatsatul lahfaan: 1/136). Oleh karena perlu kita memperhatikan persmislan berikut yang dijelasan oleh Rasulullah tentang prihal manusia dalam mengikuti jalan yang lurus dan menyimpang darinya: Dari Nawwas Bin Sam’an –radhiyallahu ‘anhu- berkata: (ضرب الله مثلا صراط مستقيما، وعلى جنبتي الصراط سوران، فيهما أبواب مفتحة، وعلى الأبواب ستور مرخاة، وعلى باب الصراط داع يقول: أيها الناس ! ادخلوا الصراط جميعا، ولا تتعرجوا، وداع يدعو من فوق الصراط، فإذا أراد يفتح شيئا من تلك الأبواب، قال: ويحك لا تفتحه، فإنك إن تفتحه تلجه، والصراط : الإسلام، والسوران: حدود الله، والأبواب المفتحة: محارم الله، وذلك الداعي على رأس الصراط: كتاب الله، والداعي من فوق الصراط : واعظ الله في قلب كل مسلم). رواه أحمد (17634) والترمذي (2859) والحاكم (1/144) وصححه ووافقه الذهبي، والألباني في صحيح الجامع (3887).

Allah membuat permisalan jalan yang lurus, dan dikiri kanan tersebut ada dua pagar, dan dua pagar tersebut memilki pintu pintu yang terbuka, dan pada pintu pintu tersebut ada gorden yang tergantung, dan diatas pintu jalan adalah seorang penyeru seraya berkata: wahai manusia, masuklah semuanya kedalam jalan dan jangan menyimpang, dan ada juga seorang penyeru dari atas jalan, apabila ada yang ingin membuka salah satu dari pintu tersebut, ia berkata: celaka kamu, jangan dibuka, jika kamu membukanya niscaya kamu akan masuk kedalamnya. Jalan (tersebut) adalah islam. Dua buah pagar adalah: batasan batasan (hukum hukum) Allah, pintu pintu yang terbuka adalah: larangan larangan Allah, da’i yang berada dipangkal jalan adalah: kitabullah (Al Qur’an) dan da’i yang berada di atas jalan adalah penasehat Allah yang ada di hati setiap muslim”.

Hadits ini menjelaskan bahwa dipinggir kiri kanan jalan keistiqomaan ada pintu pintu yang akan mengeluarkan sesorang dari jalan istiqomah, dan pintu pintu tersebut secara global kembali kepada dua: Syubuhat dan Syahawat, dan menyimpangnya seorang hamba dari istiqomah baik dengan syubuhat atau syahawat. Imam Ibnu Qoyyim berkata: (وقد نصب الله سبحانه الجسر الذي يمر الناس من فوقه إلى الجنة ونصب بجانبيه كلاليب تخطف الناس بأعمالهم فهكذا كلاليب الباطل من تشبيهات الضلال وشهوات الغي تمنع صاحبها من الاستقامة على طريق الحق وسلوكه والمعصوم من عصمه الله). الصواعق المرسلة (4/1256). “dan Allah sungguh telah menegakkan jembatan (jalan) yang akan dilewati oleh manusia menuju syurga, dan telah menegakkan juga di kiri kanannya kaitan kaitan yang mengkait manusian sesuai dengan amalan mereka, dan begini juga kaitan kaitan (rintangan rintangan) kebatilan dari syubuhat kesesatan dan syahawat kebatilan menghalang pemilik nya dari keristiqomaan berjalan diatas jalan kebenaran dan menelusurinya, yang selamat hanya orang yang dipelihara oleh Allah”. Oleh karena itu seorang hambah dalam bejalan memerlukan dua macam dari petunjuk yaitu: petunjuk kepada jalan yang lurus, dan petunjuk di atas jalan yang lurus. قال ابن القيم: (فالهداية إلى الطريق شيء والهداية في نفس الطريق شيء آخر ألا ترى أن الرجل يعرف أن طريق البلد الفلاني هو طريق كذا وكذا ولكن لا يحسن أن يسلكه فإن سلوكه يحتاج إلى هداية خاصة في نفس السلوك كالسير في وقت كذا دون وقت كذا وأخذ الماء في مفازة كذا مقدار كذا والنزول في موضع كذا دون كذا فهذه هداية في نفس السير قد يهملها من هو عارف بأن الطريق هي هذه فيهلك وينقطع عن المقصود). رسالة ابن القيم إلى أحد إخوانه (ص9). “Petunjuk kepada jalan lain dan petunjuk diatas jalan itu sendiri lain pula, tidakkah anda merehatikan seseorang yang tahu jalan suatau tempat, yaitu jalanya begini begini, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana mengikutinya, maka mengikutinya memerlukan petunjuk jalan yang khusus dalam berjalan, seperti berjalan diwaktu waktu tertentu, mengambil air di jarak tertentu dan mampir di tempat tertentu, dan inilah petunjuk dalam berjalan, terkadang diabaikan/tidak tiperhatikan oleh orang yang tahu jalan, sehingga dengan demikan ia celaka/binasa dan tidak sampai kepada tujuan”.

Kaedah kesepuluh: Tasyabbuh (menyerupai) orang kafir adalah penyimpangan yang sangat besar dari istiqomah.

Tasyabbuh dengan mereka kembali kepada dua jenis kerusakan:

1- Kerusakkan ilmu.

2- kerusakan amalan.

Renungi firman Allah Ta’ala berikut: (اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين ). الفاتحة )6-7. Kerusakkan/kebatilan orang orang Yahudi dari sisi amalan, dan kerusakan orang orang Nasrani dari sisi ilmu, kaum Yahudi berilmu tetapi tidak mengamalkannya, dan kaum Nasrani bermal tanpa ilmu. Nah penyimpangan/kerusakkan dalam bab istiqomah, boleh jadi dari menyerupai orang orang Yahudi, dimana seorang berlilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya, atau dari sisi menyerupai Nasrani, dimana seorang bermal tanpa ilmu. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: “Barangsiapa yang rusak dari ulama umat ini maka pada dirinya ada kesamaan dengan sipat orang Yahudi, dan barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah dari umat ini maka pada dirinya ada kesamaan dengan kaum Nasrani”.

Syekhul islam menamakan kitab beliau dengan: (اقتضاء الصراط المستقيم لمخالفة أصحاب الجحيم) “Tuntutan jalan yang lurus untuk menyelisihi jalan para penghuni neraka” (Yahudi dan Nasrani dan yang semisal mereka)”.

Dalam kitab ini beliau menyebutkan sebagian prilaku ahlul kitab yang dilakukan oleh sebagain umat ini, agar dijauhi supaya ia selamat dari penyimpangan dalam mengikuti jalan yang lurus dan istiqomah diatas kebanaran. Beliau menukil firman Allah Ta’ala: (ود كثير من أهل الكتاب لو يردونكم من بعد إيمانكم كفارا حسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق). البقرة: 109. “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran”. Syekhul islam berkata: “Allah telah mencela orang orang Yahudi yang hasad kepada orang orang yang beriman yang bejalan diatas petunjuk dan ilmu, dan sebagian orang orang yang menisbatkan diri kepada ilmu dan yang lain telah dihinggapi/ditimpah dengan sejenis penyakit hasad terhadap orang orang yang Allah tunjuki dengan ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh, dan ia adalah akhlak yang tercela secara mutlak, dan ia dalam perkara ini adalah diantara akhlak orang orang yang dimurkai oleh Allah (Yahudi)”. (iqtida’ ash shiratil mustaqiin” (1/83).

Kemudian beliau menyebutkan perkara perkara yang lain yang merupakan perbuatan yahudi dan nasrani , dan sebagian kaum muslimin telah tasyabbuh dengan mereka dalam hal teresebut. Rasulullah shalallahu’alahi wasallam bersabda: (لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر، وذراعا بذراع حتى لو دخلوا جحر ضب تبعتموهم). رواه البخاري (7320) ومسلم (2669). “Niscaya kamu akan mengikuti tradisi tradisi orang sebelum-mu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai sekiranya mereka masuk kedalam lubang Dhob (sejenis biawak) tentu kamu akan mengikuti mereka”. Penutup: Syekul islam berkata: ( أعظم الكرامة لزوم الاستقامة ). انظر: مدارج السالكين (2/105). “Karamah yang paling mulia adalah selalu dalam keistiqomaan” وقال شيخ الإسلام : (إنما غاية الكرامة لزوم الاستقامة ) . الفرقان (ص 349). “Puncak karamah adalah selalu dalam keistiqomaan”. قال بعض أهل العلم: (كن في طلب الاستقامة لا طالب الكرامة، فإن نفسك متحركة في طلب الكرامة، وربك يطالبك بالاستقامة). انظر: مدارج السالكين (2/105). “jadilah anda orang yang selalu mencari istiqomah dan jangan mencari karamah, karena jiwamu selalu berusaha mencari karamah, sedang rabmu menuntutmu dengan istoqomah”.

Terakhir, semogah Allah Ta’ala membimbing kita semua untuk istiqomah diatas agama-Nya dan sunnah rasul-Nya serte menunjuki kita kepada jalan yang rulus dan menyelamatkan kita dari mengikuti jalan orang orang yang dimurkai dan orang orang yang sesat.

اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، وأصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا، وأصلح لنا آخرتنا التي إلينا معادنا اللهم اجعل الحياة زيادة في كل خير والموت راحة من كل شر. وأخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين. وصلى الله وسلم وبارك وأنهم على عبده ورسوله نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين.

Jadual kajian ilmu di daerah batu aji & sekitarnya

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta dari hamba-Nya, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama, hingga manakala Dia tidak menyisakan satu orang alimpun (dalam riwayat lain: Hingga manakala tidak tertinggal satu orang alimpun), manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin dari orang-orang yang bodoh, maka tatkala mereka akan ditanya (tentang masalah agama), lalu mereka akan berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR Bukhari dalam al Ilmu 1/234 dan Muslim dalam al-Ilmu 16/223).

Masya Allah, saudaraku… bertambahnya usia dari kehidupan ini ternyata tidak banyak menambah kebaikan. Walaupun harus kita akui dalam hal teknologi ya berkembang pesat. Namun untuk ilmu dan bimbingan kehidupan…??? Sungguh semakin hilang dan jarang terjumpai, karena Allah Ta’ala telah mengangkat ilmu dan petunjuk hidup ini sedikit demi sedikit… Sebelum kita kehilangan ilmu dan petunjuk untuk selamanya, maka mari menyempatkan diri untuk datang menghadiri forum – forum yang mana para malaikat menaunginya dengan rahmat-Nya.

Saudaraku, keseriusan anda dalam mempelajari ilmu agama anda adalah awal keberuntungan anda…karena anda akan meniti jalan menuju syurga.

Imam Hasan Al-Basri mengatakan: ” Sesungguhnya seseorang belajar satu bab tentang masalah agama, lalu ia mengamalkan, itu lebih baik dari dunia dan segala isinya.”

Saudaraku, sebagaimana anda serius dalam mencari rezki untuk hidup, maka hendaklah anda juga serius dalam mempelajari ilmu agama, karena itulah kehidupan yang sebenarnya yang tanpanya anda ibarat mati.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan:” Manusia lebih membutuhkan ilmu dari sekedar membutuhkan makan dan minum, karena makan dan minum dibutuhkan sekali atau dua kali sehari, sedan ilmu senantiasa dibutuhkan selama nafas masih dikandung badan.”

Saudaraku,
Berapa banyak orang yang sholat sedang dia tidak mengetahui tata cara sholat yang benar sebagaimana sholatnya Rasululloh shallalhu alai wasalam.
Berapa banyak orang yang berpuasa yang melakukan pelanggaran sedang dia tidak menyadarinya.
Berapa banyak orang berangkat haji sedang dia tidak mengetahui bagaimana manasik haji yang benar.
Berapa banyak pelaku bi’dah yang melakukan berbagai perbuatan bi’dah sedang ia menyangka hal itu bagiamn dari sunnah.
Berapa banyak para pedagang yang mempraktekkan berbagai macam bentuk muamalah yang haram, sedang ia menyangka hal itu adalah halal.
Berapa banyak orang yang memakan harta manusia secara batil dalam keadaan ia tidak mampu membedakan antara yang halal dan haram

Abdullah bin Al-Mubarak pernah ditanya: Sampai kapan seseorang masih harus belajar? Ia menjawab: selama kebodohan itu tidak pantas baginya, ia masih harus belajar.

Muhamad bin Al-Fadhl As-Samargandi Al-Wa’idz berkata: ” Berapa banyak orang yang bodoh mendapatkan ilmu maka dia selamat, dan berapa banyak ahli ibadah yang beramal dengan amalan orang bodoh maka ia binasa. Hadirilah, berilmulah, jika niat tidak hadir kepadamu, maka sesungguhnya engkau dapat mencarinya dengan ilmu dan sesungguhnya sesuatu yang nampak pertama kali dari hamba adalah lisannya, dan sesuatu yang pertama kali nampak dari akalnya adalah kedewasaannya.”

Wahai saudaraku, antusiaslah dalam mempelajari agamu, hilangkan segala hambatan yang menghambat darinya, sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar. Dan hambatan pertama yang menghalangi seseorang dari belajar ilmu syari': malu dan sombong.

Mujahid berkata: ” Tidak akan belajar orang yang malu dan sombong.”

Ibnu Qoyyim berkata: ” Kebahagian yang hakiki adalah kebahagian jiwa, ruh dan hati, yakni kebahagian ilmu yang membuahkan manfaat, dialah yang kekal dalam kondisi apapun, dan dialah yang selalu menyertai hamba dalam seluruh perjalanannya, dan dalam tiga waktunya (pagi,siang dan malam), dengannya ia naik ke tangga keutamaan dan derajat kesempurnaan, semakin lama akan semakin kuat dan tinggi.”

Akan tetapi alangkah banyak manusia yang lengah dari mencari kebahagian ini. Kita lihat diantara mereka yang berambisi untuk mendapatkan dunia, serius dalam mempelajari sarana-sarana dalam memdapatkan rezki dan menumpuk harta, namun banyak dari mereka yang zuhud dalam mempelajari ilmu agama dan dalam menumpuk tabungan ilmu yang bermanfaat.
Mereka cemas jika rugi dalam hartanya, meski sedikit….namun tidak pernah cemas saat rugi besar dalam agamanya
Mereka gembira jika mendapatkan sedikit harta…namun tidak merasa gembira ketika mendapatkan ilmu tentang agamanya

Saudaraku, bersungguh-sungguhlah dalam mempelajari agama anda, jangan sia-siakan waktu anda untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, dan mintalah kepada Alloh Ta’ala agar Dia memberi pertolongan kepadamu
Rosululloh shallalahu alai wasalam bersabda: ” Mintalah kepada Alloh ilmu yang bermanfaat, dan berlindunglah kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR: Ibnu Majah, shahih Ibnu Majah)

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Berikut Jadual Kajian Ilmu di Masjid Sabiilun Najaati, Komplek SDIT Fajar Ilahi, MKGR-Batu aji Batam,

Hari : Selasa
Waktu : Ba’da Maghrib
Kategori : Fiqh
Materi : Kitab Syarah Bulughul Mahrom
Ustad : Ust. Ahmad Ridwan,Lc

==============================================
Hari : Rabu
Waktu : Ba’da Maghrib
Kategori : Tafsir
Materi : Kitab Tafsir Ibnu Katsir
Ustad : Ust. Ahmad Ridwan, Lc
==============================================Hari : Kamis
Waktu: Ba’da subuh – 06.00
Kategori: Ushul Fiqh
Materi : Kitab Ushul min Ilmi Al-Ushul (Syaikh Utsaimin Rahimallahu)

Waktu : Ba’da Maghrib
Kategori : Tafsir
Materi: Kitab Tafsir Ibnu Katsir
Ustad : Ust. Ahmad Ridwan,Lc
===============================================
Hari : Jum’at
Waktu : Ba’da subuh
Kategori : Hadist
Materi: Kitab Muthasor Shohih Bukhori
Ustad : Ust. Ahmad Ridwan,Lc

Hari : Jum’at
Waktu : Ba’da Isya
Kategori : Tazkiyatun Nufus
Materi: Kitad Dawa Ad Dawa (Ibnu Qoyyim Al-Jauziah rahimahullahu)
Ustad : Ust. Pengadilan Harahap,Lc

================================================
Hari : Sabtu
Waktu : Ba’da subuh
Kategori : Hadist
Materi: Kitab Muthasor Shohih Bukhori
Ustad : Ust. Ahmad Ridwan,Lc

================================================
Hari : Ahad
Waktu : Ba’da subuh
Kategori : Hadist
Materi: Kitab Muthasor Shohih Bukhori
Ustad : Ust. Ahmad Ridwan,Lc

================================================

Tatkala semangat ini mulai lesu…
Tatkala jiwa ini mulai bosan dan jemu…
Untuk apa kita melakukan semua itu…
Apakah hanya sekedar membuang-buang waktu…
Tentu tidak wahai saudaraku…
Ilmu lah yang akan membahagiakan diriku dan dirimu…
Kobarkanlah semangat menuntut ilmu…
Wahai Saudaraku…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-menyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2700).

Seandainya keutamaan majelis ilmu hanyalah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini, maka itu sudah cukup sebagai pendorong kaum Muslimin untuk menghadiri majelis ilmu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan semangat kepada kita untuk rajin menghadiri majelis ilmu.

Ajaklah saudara, kawan, keluarga untuk menghadiri majelis ilmu tersebut diatas.

Barakallahu fiikum.

Agar Nafkah Keluarga Menjadi Berkah

Agama Islam yang sempurna telah mengatur dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kaum muslimin untuk menyelenggarakan semua urusan dalam hidup mereka, untuk kemaslahatan dan kebaikan mereka dalam urusan dunia maupun agama.
Allah berfirman,

{وَنزلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}

”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89).

Dan ketika sahabat yang mulia, Salman Al-Farisy radhiallahu ‘anhu ditanya oleh seorang musyrik, Sungguhkah nabi kalian (nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar? Salman menjawab, ”Benar, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar dan ketika buang air kecil…[1]

Tidak terkecuali dalam hal ini, masalah yang berhubungan dengan mengatur dan membelanjakan rizki/penghasilan, semua telah diatur dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih, dengan tujuan untuk membimbing orang-orang yang beriman agar mereka meraih keberkahan dan keutamaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam pembelanjaan harta mereka yang sesuai dengan petunjuk-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ»

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampaipun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.”[2]

Disamping itu, mengatur pembelanjaan harta sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala merupakan cara terbaik untuk mengatasi keburukan nafsu manusia yang tidak pernah puas dengan harta dan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[3]

Juga sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[4]
Kewajiban mengatur pembelanjaan harta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”[5]

Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hAl-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia.[6]

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idha’atul maal (menyia-nyiakan harta).[7]

Arti “idha’atul maal” (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan.[8]
Antara pemborosan dan penghematan yang berlebihan
Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,

{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}

“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqaan: 67)

Artinya, mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang moderat (pertengahan).[9]

Juga dalam firman-Nya,

{وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا}

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Israa’: 29)

Imam Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Arti ayat ini, larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannnya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah.”[10]
Waspadai fitnah (kerusakan) harta!
Perlu diwaspadai dalam hal yang berhubungan dengan pembelanjaan harta, fitnah (kerusakan) yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta tersebut, sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

«إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ»

“Sesungguhnya pada setiap umat (kaum) ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta.”[11]

Maksudnya, menyibukkan diri dengan harta secara berlebihan adalah fitnah (yang merusak agama seseorang) karena harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membuatnya lupa kepada akhirat, sebagaimana firman-Nya,

{إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu merupakan fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Tagaabun: 15).[12]

Kerusakan lain yang ditimbulkan dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta adalah sifat tamak/rakus dan ambisi untuk mengejar dunia, karena secara tabiat asal nafsu manusia tidak akan pernah merasa puas/cukup dengan harta dan kemewahan dunia yang dimilikinya, bagaimanapun berlimpahnya[13], kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang penuh berisi) harta/emas maka dia pasti akan menginginkan lembah (harta) yang ketiga.”[14]

Sifat rakus inilah yang akan terus memacunya untuk mengejar harta dan mengumpulkannya siang dan malam, dengan mengorbankan apapun untuk tujuan tersebut. Sehingga tenaga dan pikirannya akan terus terkuras untuk mengejar ambisi tersebut, dan ini merupakan kerusakan sekaligus siksaan besar bagi dirinya di dunia.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (kerusakan dan penderitaan), Kekalutan (pikiran) yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan dan penyesalan yang tiada akhirnya.[15]

Dalam hal ini, salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia/harta (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam penderitaan.”[16]
Zuhud dalam masalah harta
Zuhud dalam harta dan dunia bukanlah dengan meninggalkannya, juga bukan dengan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi zuhud dalam harta adalah dengan menggunakan harta tersebut sesuai dengan petunjuk Allah Ta’ala, tanpa adanya keterikatan hati dan kecintaan yang berlebihan kepada harta tersebut. Atau dengan kata lain, zuhud dalam harta adalah tidak menggantungkan angan-angan yang panjang pada harta yang dimiliki, dengan segera menggunakannya untuk hAl-hal yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah arti zuhud yang sesungguhnya, sebagaimana ucapan imam Ahmad bin Hambal ketika beliau ditanya, Apakah makna zuhud di dunia (yang sebenarnya)? Beliau berkata, “(Maknanya adalah) tidak panjang angan-angan, (yaitu) seorang yang ketika dia (berada) di waktu pagi dia berkata, Aku (khawatir) tidak akan (bisa mencapai) waktu sore lagi.”[17]

Salah seorang ulama salaf berkata, “Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal, dan juga bukan dengan menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah dengan kamu lebih yakin dengan (balasan kebaikan) di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu, dan jika kamu ditimpa suatu musibah (kehilangan sesuatu yang dicintai) maka kamu lebih mengharapkan pahala dan simpanan (kebaikannya diakhirat kelak) daripada jika sesuatu yang hilang itu tetap ada padamu.”[18]
Jangan lupa menyisihkan sebagian harta untuk sedekah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}

“Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Sabaa’: 39).

Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.[19]
Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»

“Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya.”[20]

Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hAl-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata.”[21]

Maka keutamaan besar ini jangan sampai diabaikan oleh keluarga muslim ketika mereka mengatur pembelanjaan harta, dengan cara menyisihkan sebagian dari rizki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka, untuk disedekahkan kepada fakir miskin. Harta yang disisihkan untuk sedekah tidak mesti besar, meskipun kecil tapi jika dilakukan dengan ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya, maka akan bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian (selamatkanlah diri kalian) dari api nereka walaupun dengan (bersedekah dengan) separuh buah kurma.”[22]

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik (meskipun) kecil, walaupun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria.”[23]

Dan lebih utama lagi jika sedekah tersebut dijadikan anggaran tetap dan amalan rutin, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”[24]
Nasehat dan penutup
Kemudian yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja keluarga bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapapun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih. Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati).”[25]

Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb-nya dan islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”[26]

Arti “ridha kepada Allah sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan yang tidak diberikan-Nya[27].

Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.”[28]

Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia menganugerahkan kepada kita semua sifat qana’ah dan semua sifat-sifat baik yang diridhai-Nya, serta memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dengan baik dan benar, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

http://www.PengusahaMuslim.com

[1] HSR Muslim (no. 262).
[2] HSR Al-Bukhari (no. 56) dan Muslim (1628).
[3] HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).
[4] HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.
[5] HR At-Tirmidzi (no. 2417), Ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani dalam “As-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.
[6] Lihat kitab “Bahjatun naazhirin syarhu riyaadhish shaalihin” (1/479).
[7] HSR Al-Bukhari (no.1407) dan Muslim (no.593).
[8] Lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadits wal atsar” (3/237).
[9] Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (3/433).
[10] Kitab “Fathul Qadiir” (3/318).
[11] HR At-Tirmidzi (no. 2336) dan Ahmad (4/160), dinyatakan shahih oleh imam At-Tirmidzi dan Al-Albani.
[12] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/507).
[13] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 84 – Mawaaridul amaan).
[14] HSR Al-Bukhari (no. 6075) dan Muslim (no. 116).
[15] Kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83-84, Mawaaridul amaan).
[16] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Igaatsatul lahfan” (hal. 83 – Mawaaridul amaan).
[17] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/384).
[18] Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab beliau “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (2/179).
[19] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (3/713).
[20] HSR. Muslim (no. 2588).
[21] Lihat kitab “Syarhu shahihi Muslim” (16/141) dan “Faidhul Qadiir” (5/503).
[22] HSR Al-Bukhari (no. 1351) dan Muslim (no. 1016).
[23] HSR Muslim (no. 2626).
1 HSR Al-Bukhari (no. 6099) dan Muslim (no. 783).
2 HSR Al-Bukhari (no. 6081) dan Muslim (no. 120).
[26] HSR Muslim (no. 34).
[27] Lihat kitab “Fiqhul asma-il husna” (hal. 81).
[28] HSR Muslim (no. 1054).

warna warni riya’

Syirik Kecil, Riya’

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “الرِّيَاءُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِى النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمُ، اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِى الدُّنْيَا، فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً.

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil”. Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’, kelak di hari kiamat ketika amalan manusia diberi balasan, Allah ‘Azza wa Jalla akan mengatakan kepada mereka (yang berbuat riya’’), “Pergilah kepada orang yang kamu harapkan pujiannya sewaktu di dunia dan lihatlah apakah kamu mendapati pahala dari mereka?” (HR Ahmad).[1]

Sesungguhnya riya’ adalah penyakit yang sangat berbahaya yang berasal dari kurangnya ketauhidan hamba kepada Allah Ta’ala, di antara bahaya riya’ adalah:

Riya’ membatalkan amalan seorang hamba, Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ وَاْلأَذَىكَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَآءَ النَّاسِ وَلاَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لاَّ يَقْدِرُونَ عَلَى شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Riya’ adalah sifat orang munafik sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَاقَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَآءُونَ النَّاسَ وَلاَيَذْكُرُونَ اللهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malasnya, mereka riya’ kepada manusia dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja”. (An Nisaa : 142)

Pelaku riya’ adalah yang pertama kali dilemparkan ke dalam api Neraka
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ.

“Sesungguhnya orang yang pertama kali diadzab pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid, lalu ia didatangkan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengan nikmat tersebut?” Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar disebut pemberani dan kamu telah disebut demikian.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret pada wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api Neraka. Dan orang yang (kedua) mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran, ia didatangkan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkakan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengan nikmat tersbebut?” Ia menjawab, “Aku mempelajari ilmu dan membaca Alquran karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar disebut ulama dan membaca Alquran agar disebut qori dan kamu telah disebut demikian.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret pada wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api Neraka. Dan orang yang (ketiga) Allah Subahanahu wa Ta’ala luaskan rezekinya dan diberi segala macam harta lalu ia didatangkan menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nikmat-Nya kepadanya dan ia pun mengakuinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apa yang engkau amalkan dengannya?” Ia menjawab, “Tidak ada satupun jalan yang Engkau sukai untuk diinfakkan pada jalan tersebut, kecuali aku telah menginfakkannya karena Engkau.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu dusta, akan tetapi kamu berbuat demikian agar disebut dermawan dan kamu telah disebut demikian.” Lalu orang itu diperintahkan agar diseret pada wajahnya sampai dilemparkan ke dalam api Neraka.” (HR Muslim).[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berlepas diri dari pelaku riya’
Dalam hadis qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku paling tidak membutuhkan sekutu, barang siapa yang mempersekutukan-Ku dengan yang lain, Aku akan tinggalkan ia dan kesyirikannya.” (HR Muslim).[3]

Lebih ditakutkan dari Al-Masih Dajjal.
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, pada saat itu kami sedang memperbincangkan Al-Masih Dajjal, beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepadamu yang lebih aku takutkan untuk menimpamu dari Al-Masih Dajjal?” kami menjawab, “Mau.” Beliau bersabda, “Syirik kecil yaitu seseorang berdiri shalat lalu ia memperbagus shalatnya karena ada orang yang memperhatikannya.” (HR Ibnu majah).[4]

Warna-Warni Riya’
Riya’ mempunyai warna-warni yang berbeda karena kelincahan setan dalam menggoda manusia. Apalagi terhadap orang yang diberikan kelebihan, baik dalam ilmu, ibadah, kemerduan suara, dan lain sebagainya. Riya’ masuk dalam berbagai macam sisi kehidupan, dalam lapangan ilmu misalnya setan berusaha menggoda manusia agar jatuh ke dalam riya’, di antara fenomena riya’ dalam lapangan ilmu:

Terlalu berani berfatwa dan tergesa-gesa untuk mengajar
Sifat ini adalah akibat cinta ketenaran dan ingin disebut sebagai ‘alim ulama, sehingga ia amat berani berfatwa karena takut dikatakan ‘tidak tahu’. Padahal para ulama terdahulu, rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mengalahkan rasa takutnya untuk dikatakan ‘tidak tahu’.

Abu Dawud berkata, “Tak terhitung jumlahnya aku mendengar Imam Ahmad ditanya tentang permasalahan yang masih diperselisihkan, beliau berkata, “Aku tidak tahu.” Imam Ahmad berkata, “Aku tidak pernah melihat fatwa yang lebih bagus dari fatwa Sufyan bin ‘Uyainah, ia amat ringan untuk berkata, “Tidak tahu.”

Ibnu Qayyim berkata, “Para ulama salaf dari kalangan shahabat dan tabi’in tidak suka tergesa-gesa dalam berfatwa, mereka berharap agar saudaranyalah yang menjawabnya, dan bila ia melihat sudah menjadi keharusan baginya, maka ia mengeluarkan semua kesungguhannya untuk mengetahui hukumnya dari Alquran dan sunah atau pendapat khulafa ar-rasyidin, kemudian ia berfatwa.”[5]

Doktor Nashir Al-‘Aql berkata, “Di antara kesalahan yang harus diperingatkan dalam masalah fiqih adalah memisahkan dakwah dari ilmu. Ini lebih banyak ditemukan pada pemuda mereka berkata, “Berdakwah berbeda dengan menuntut ilmu.” Oleh karena itu, kita dapati para pemuda sangat memperhatikan amaliyah dakwah, bahkan memberikan semua kesungguhannya, akan tetapi ia sangat sedikit dalam menghasilkan ilmu syar’iat, padahal kebalikannya itulah yang benar. Hendaklah ia menuntut ilmu dan ber-tafaqquh dalam agama, memperoleh ilmu-ilmu syariat, kemudian baru ia berdakwah…” (Al-Fiqhu Fiddiin, Hal. 58)

Sibuk dengan ilmu yang bersifat fardhu kifayah dan meninggalkan yang fardhu ‘ain
Ia sibuk memperdalam ilmu-ilmu qira’at dan makhrajnya, namun meninggalkan yang lebih utama darinya, yaitu mentadabburi makna-maknanya. Ia memperdalam permasalahan-permasalahan fiqih yang amat pelik namun meninggalkan ilmu tauhid dan ikhlas. Namun bukan berarti kita berburuk sangka kepada mereka, akan tetapi perbuatan tersebut termasuk langkah-langkah setan dalam menggoda manusia.

Suka berdebat dan bertengkar dalam agama
Sifat ini digemari oleh orang-orang yang terfitnah oleh popularitas, dan ingin mengalahkan saingannya dengan memperlihatkan kehebatannya. Ini adalah tanda yang tidak baik, Imam Al-Auza’i berkata, “Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan keburukan kepada suatu kaum, Allah Subhanahu wa Ta’ala bukakan kepada mereka pintu jidal (perdebatan), dan menutup untuknya pintu amal.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ في رَبَضِ الْجَنّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقاّ..

“Aku menjamin dengan rumah di pinggir surga, untuk orang yang meninggalkan mira’ (debat kusir), walaupun ia di pihak yang benar..” (HR Abu Dawud)[6]

Para ulama salaf terdahulu berdebat bila dalam keadaan terpaksa saja. Adanya orang-orang yang tergelincir dalam masalah ini adalah karena niat yang tidak baik, padahal para ulama salaf lebih memperhatikan amal dari berbicara. Adapun sekarang, banyak dari kita yang lebih banyak memperhatikan berbicara karena ingin dianggap unggul. Allahul musta’an.

Marah bila dikritik dan bersikap dingin kepada orang yang menyelisihinya serta berbangga dengan banyaknya pengikut
Ini akibat tidak keikhlasannya dalam menuntut ilmu dan berdakwah, Imam Adz-Dzahabi berkata, “Tanda orang yang ikhlas, yang terkadang tak terasa masih menyukai ketenaran, adalah bila ia diingatkan tentang hal itu, hatinya tidak merasa panas, dan tidak membebaskan diri darinya, namun ia mengakuinya dan berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan aibku.” Ia tidak berbangga dengan dirinya, dan penyakit yang berat adalah bila ia tidak merasakan aibnya tersebut.”[7]

Betapa indahnya perkataan beliau ini, amat layak untuk ditulis dengan tinta emas dan menjadi renungan kita bersama.

Al-Fudlail bin ‘Iyadl berkata (Kepada dirinya), “Wahai, kasihannya engkau, engkau berbuat buruk tetapi engkau merasa berbuat baik, engkau tidak tahu tetapi merasa selevel dengan ulama, engkau kikir tetapi merasa dermawan, engkau pandir tetapi merasa pintar dan berakal, ajalmu pendek namun angan-anganmu panjang.”[8]

Saudaraku, terkadang banyaknya pengikut membuat kita tertipu dan menjadikan seorang da’I berbangga. Bila yang hadir di majlis taklimnya banyak, ia senang, namun bila yang hadir sedikit, ia bersedih dan ciut hatinya, tanda apakah ini ya akhi..?!

Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Aku mempunyai majlis (ta’lim) di Masjid Jami’ setiap hari Jumat. Apabila yang hadir banyak, aku merasa senang. Dan apabila yang hadir sedikit, aku merasa sedih. Lalu aku tanyakan kepada Bisyir bin Manshur, ia menjawab, ‘Itu majlis yang buruk, jangan kamu kembali kepadanya.’” Aku pun tidak lagi kembali kepadanya.[9]

Subhanallah!! Betapa ikhlasnya mereka, betapa jauhnya dari cinta popularitas, sedangkan kita?!! entah, wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Yahha Badrusalam
Artikel http://www.CintaSunnah.com
——————————————————————————–

[1] Dalam musnadnya no 23680 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Targhib no 32.

[2] Muslim 3/1513 no 1905.

[3] Muslim no 2985.

[4] Ibnu Majah no 4204 dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Targhib wattarhib no 30.

[5] I’laamul muwaqqi’iin 1/33-34.

[6] Sunan Abu Dawud no 4800, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih Abi Dawud no 4015.

[7] Siyar a’lamin Nubalaa 7/393.

[8] Siyar A’lamin Nubalaa 8/440.

[9] Hilyatul auliya 9/12

Bencana…!! banyak berilmu namun tanpa amal

Bencana…!! banyak berilmu namun tanpa amal

(dikutip dari buku : DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh Abu Abdil Muhsin Firanda

Mengenai Syaikh Abdurrozzaq, sebagaimana pengakuan sebagian teman yang pernah dekat dengan beliau, bahwasanya beliau bukanlah orang yang paling ‘alim di kota Madinah, bahkan bukan pula orang yang paling ‘alim di Universitas Islam Madinah, karena pada kenyataannya masih banyak ulama lain lebih unggul daripada beliau dari sisi keilmuan. Akan tetapi yang menjadikan beliau istimewa di hati para mahasiswa adalah perhatian beliau terhadap amal, takwa, dan akhlak. Hal ini tidak mengherankan karena seringkali wejangan-wejangan beliau tentang perhatian pada mengamalkan ilmu. 

Selama kurang lebih 9 tahun, beliau mengajar sebuah kitab tentang adab karya Imam Al-Bukhari yang berjudul Al-Adab Al-Mufrad di masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Shubuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia. Bahkan, saat beliau mengisi di Radiorodja dan waktu itu tidak ada materi yang siap untuk disampaikan, serta kebetulan salah seorang pembawa acara ingin ada pengajian khusus tentang tanya jawab dengan diberi sedikit mukadimah, maka beliau langsung setuju, dan mukadimah yang beliau bawakan adalah tentang pentingnya mengamalkan ilmu. 

Orang yang Tidak Shalat Shubuh Berjamaah Bukanlah Penuntut Ilmu

Syaikh Abdurrozaq pernah mengunjungi suatu kampung yang terkenal memiliki banyak penuntut  ilmu. Maka beliau pun shalat di masjid tersebut. Di sana, beliau bertemu seorang kakek, lantas beliau berkata seraya memberi kabar gembira kepada sang Kakek, “Masya Allah, kampung Kakek banyak sekali penuntut ilmu.”

Tapi, sang Kakek malah menimpali dengan perkataan sinis, “Tidak ada tullabul ‘ilm (para penuntut ilmu) di kampung ini. Sebab, orang yang tidak shalat shubuh berjamaah bukan penuntut ilmu!”

Syaikh Abdurrozaq tertegun mendengar kalimat sang Kakek. Rupanya benar, banyak penuntut ilmu di kampung tersebut tidak menghadiri shalat shubuh berjamaah. Syaikh pun membenarkan perkataan sang Kakek, “Anda benar, bahwa ilmu itu untuk diamalkan. Bahkan bisa jadi kita mendapatkan seorang penuntut ilmu semalam suntuk membahas tentang hadits-hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan shalat Shubuh secara berjamaah, bahkan bisa jadi dia menghafalkan hadits-hadits tersebut di luar kepalanya. Akan tetapi tatkala tiba waktu mengamalkan hadits-hadits yang dihafalkannya itu, dia tidak mengamalkannya, malah ketiduran, tidak shalat shubuh berjamaah.”

Memang benar bahwasanya tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam  bersabda: 

القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

 Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu. (HR Muslim no 223)

Saya teringat nasihat Syaikh Utsaimin yang disampaikan di hadapan para mahasiswa Universitas Islam Madinah, bahwasanya ilmu itu hanya akan memberi dua pilihan, dan tidak ada pilihan ketiga, yaitu: [1] menjadi pembela bagi pemiliknya atau [2] akan menyerangnya pada hari kiamat jika tidak diamalkan.

Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak menuntut ilmu hanya untuk menambah wawasannya, tetapi dengan niat untuk diamalkan agar tidak menjadi bumerang yang akan menyerangnya pada hari kiamat kelak.

Marilah kita renungkan…!

Sudah berapa lama kita ikut pengajian?

Sudah berapa kitab yang kita baca?

Sudah berapa muhadhorah yang kita dengarkan?

Sungguh suatu kenikmatan ketika seseorang bisa aktif ikut pengajian, akan tetapi apakah kita siap untuk menjawab pertanyaan yang pasti akan ditanyakan kepada kita semua, sebagaimana yang dikabarkan Nabi shalallahu alaihi wasalam  : 

وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟

 “Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”

Syaikh Abdurrozzaq menjelaskan bahwa seseorang yang telah banyak mengumpulkan ilmu lantas tidak diamalkan maka hal ini menunjukkan ada niatnya yang tidak beres. Sungguh menyedihkan jika kita, ahlus sunah, yang seharusnya memberi perhatian besar terhadap ilmu akidah, baik penanaman akidah maupun pembenahan akidah-akidah yang menyimpang di masyarakat, namun ilmu akidah tidak tercermin pada amalan shalih kita.

Syaikh Abdurrozzaq berkata: “Aku ingin mengingatkan sebuah perkara yang terkadang kita melalaikannya tatkala kita mempelajari ilmu aqidah. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: 

كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لاَ يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لاَ يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ

 Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).( Al Fawaid 86) 

Maksud “telah termasuki” dari perkataan Ibnul Qoyyim  yaitu telah termasuki sesuatu; baik riya, tujuan duniawi, atau yang semisalnya, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan diberkahi. Oleh karena itu, niat yang baik merupakan perkara yang harus, baik dalam mempelajari akidah ataupun ilmu agama yang lain secara umum.

Jika seseorang mempelajari ilmu akidah hendaknya dia tidak mempelajarinya sekadar menambah telaah dan memperbanyak wawasan, tetapi hendaknya karena akidah merupakan bagian dari agama Allah yang diperintahkan Allah kepada para hamba-Nya, serta menyeru mereka kepada-Nya dan menciptakan mereka karena akidah dan dalam rangka merealisasikannya. Maka hendaknya ia berijtihad (berusaha keras) untuk memahami dalil-dalilnya dan ber-taqarrub kepada Allah dengan mengimaninya dan menanamkannya dalam hatinya. Jika dia mempelajari akidah dengan niat seperti ini maka akan memberikan buah yang sangat besar, dan akan memengaruhinya dalam perbaikan sikap, amal, dan akhlak dalam seluruh kehidupannya.

Jika seseorang mempelajari akidah hanya untuk jidal dan perdebatan, dengan tanpa memerhatikan sisi penyucian jiwa dengan keimanan, keyakinan, serta rasa tenang dengan akidah tersebut, maka tidak akan membuahkan hasil apa-apa. 

Di antara contoh tentang perkara ini — yang berkaitan dengan iman kepada melihat Allah di akhirat kelak — sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam  : 

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ ، لاَ تُضَامُونَ ـ وفي رواية:”لا تُضارُّون”، وفي رواية:”لا تُضَامُّون”ـ في رؤيته، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَلاَّ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وّقَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوا ، ثُمَّ قَرَأَ: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

 Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat sebagaimana kalian melihat bulan. Kalian tidak akan tertutupi oleh awan, (dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling mencelakakan;  dalam riwayat yang lain: kalian tidak akan saling berdesak-desakan), maka jika kalian mampu melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari maka lakukanlah.” 

Kemudian Nabi membaca firman Allah: 

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

 Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). (Q.S. Qaf: 39 )

Maksud Nabi adalah shalat Shubuh dan shalat Asar. 

Perhatikanlah keterkaitan antara akidah dan amal. Nabi menyebutkan kepada para sahabat perkara akidah, yaitu beriman kepada melihat Allah. Lalu Nabi menyebutkan kepada mereka tentang amal yang merupakan buah dari akidah yang benar, maka Nabi berkata kepada mereka: “Jika kalian mampu untuk tidak terluputkan….” 

Jika ada seseorang mempelajari hadits-hadits tentang iman kepada melihat Allah, lantas meneliti jalan hadits serta sanad-sanadnya, lalu dia mendebat para ahlul kalam dan membantah syubhat-syubhat seputar hal ini, kemudian ternyata dia begadang dan akhirnya meninggalkan shalat Shubuh, bisa jadi shalat Shubuh tersebut tidak ada nilainya di sisi-Nya. Sang muadzin telah mengumandangkan adzan untuk shalat, “As-Shalatu khairun minan naum,” (Shalat itu lebih baik dari pada tidur) namun kondisinya menunjukkan seakan-akan dia berkata, “Tidur lebih baik daripada shalat.” Maka, mana pengaruh akidah pada sikapnya?

Kita mohon kepada Allah keselamatan. 

Orang seperti ini perlu memperbaiki niat dan tujuannya dalam mempelajari akidah agar bisa membuahkan hasil yang diharapkan, maka terwujudkanlah pengaruh yang baik yang barakah baginya. Seorang muslim semestinya mempelajari akidah karena itu adalah akidah dan agamanya yang Allah telah memerintahkan dia untuk mengamalkannya. Dan hendaknya dia bersungguh-sungguh agar ilmu akidahnya tersebut bisa memberi pengaruh pada diri, ibadah, dan taqarrub-nya kepada Allah.” (Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Akidah, Al-Hafizh Abdul Ghaniy Al-Maqdisi; hal 21-22) 

Marilah kita bercermin dan menginstropeksi diri kita, apakah dengan semakin bertambahnya ilmu kita demikian juga bertambah amalan kita? Ataukah bertambahnya ilmu justru membuat kita semakin malas dalam beramal? Bukankah kita masih ingat, di awal-awal mengenal pengajian, semangat kita begitu besar dalam menjalankan sunah-sunah Nabi, akan tetapi kenapa ada sebagian dari kita dengan semakin bertambahnya ilmu justru semakin sedikit beramal? Bahkan, ada pula sebagian kita setelah mengetahui beberapa amalan hukumnya sunah (mustahab) dan tidak wajib, malah terdorong untuk meninggalkan amalan tersebut. Bertambahnya ilmu justru mengantarkannya untuk meninggalkan amalan. Bukankah bisa jadi karena terbiasa meninggalkan amalan-amalan sunah akhirnya perkara-perkara yang wajib pun bisa ditinggalkan?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah berkata: 

وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ

 Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306) 

Marilah kita cek hati dan ketakwaan kita, apakah dengan bertambah ilmu setelah sekian tahun ikut pengajian, maka ketakwaan dan keimanan kita semakin berkobar, ataukah malah semakin kendor? Jika ternyata kita semakin malas beramal dan semakin lemah iman kita maka ingatlah nasihat Syaikh Abdurrozzaq tadi bahwasanya niat kita selama ini ternyata terkontaminasi dan ternodai dengan penyakit-penyakit hati; baik riya, ujub, atau tujuan-tujuan duniawi lainnya. Allahul musta’an. 

Ilmu adalah Pohon, dan Amal adalah Buahnya

Para pembaca yang budiman, tahukah Anda bahwa ilmu bukanlah ibadah yang independen? Ilmu hanya disebut ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan. Jika ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang pemiliknya. Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya yang luar biasa Al-Muwafaqat. Beliau berkata:

أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ لا يُفيد عَمَلاً؛ فَلَيْسَ فِي الشَّرعِ مَا يَدُلُّ عَلَى استِحسَانِه

 “Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut.” (Al-Muwafaqat 1/74)

 Oleh karena itu, semua dalil yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu semuanya harus dibawakan kepada ilmu yang disertai dengan amal.

Firman Allah: 

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9) 

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

 Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al-Mujadalah: 11) 

Demikian juga semisal hadits Nabi shalallahu alaihi wasalam  : 

من يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan membuat dia faqih (paham) tentang ilmu agama.

 Maksudnya adalah orang yang dikendaki kebaikan oleh Allah adalah orang yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya. Adapun orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmu maka tercela, karena jelas ilmunya akan menjadi bumerang baginya.

Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal. Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat. Allah telah berfirman: 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah para ulama.
(Q.S. Fathir: 28) 

Dan Allah juga berfirman: 

وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ

 

Dan Sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Q.S. Yusuf: 68) 

Qatadah berkata: “Maksudnya adalah لَذُو عَمَلٍ بِمَا عَلَّمْنَا  dia mengamalkan ilmu yang Kami ajarkan kepadanya…” (Al-Muwafaqat 1/75). 

Dan yang paling menunjukkan akan hal ini adalah hadits Nabi shalallahu alaihi wasalam  : 

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسأَلَ عَنْ خَمْسِ خِصَالٍ”،

 “Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima perkara.” Di antara lima perkara tersebut yang disebutkan oleh Nabi saw.: وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟ “ Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”

 Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232). 

Oleh karena itu, sungguh indah kesimpulan yang disampaikan oleh Asy-Syathibi dalam perkataannya: “Dan dalil akan hal ini (bahwasanya ilmu hanyalah wasilah untuk amal dan bukan tujuan) terlalu banyak. Semuanya memperkuat bahwa ilmu merupakan sebuah wasilah (sarana) dan bukan tujuan langsung jika ditinjau dari kacamata syariat. Akan tetapi, ilmu hanyalah wasilah untuk beramal. Maka semua dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu hanyalah berlaku bagi ilmu yang disertai dengan amalan. Dan kesimpulannya bahwasanya seluruh ilmu syar’i tidaklah dituntut (dalam syariat) kecuali dari sisi sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yaitu amal.” (Al-Muwafaqat 1/83-85) 

Sungguh indah wasiat Al-Khathib al-Baghdadi kepada para penuntut ilmu: 

إِنِّي مُوصِيكَ يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بِإِخْلَاصِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجَبِهِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا، … وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَهُ لِفَسَادِ طَرِيقَتِهِ ، وَجَاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ …

وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ كَمَا الْعَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْعَمَلُ قَاصِرًا عَنِ الْعِلْمِ، كَانَ الْعِلْمُ كَلًّا عَلَى الْعَالِمِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلًّا، وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غَلًّا ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْعِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ غَايَةُ الْعِلْمِ

 Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.”

Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya.

Sebagian ahli bijak berkata, “Ilmu adalah pembantu bagi amal, dan amal adalah puncak dari ilmu.” (Iqtidhaul Ilmi Al-’Amal 14-15)

Semangat Beramal Mengalahkan Kelelahan dan Kelemahan

Syaikh Abdurrozaq bercerita, “Suatu ketika aku pernah shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Dulu, setiap malam bulan Ramadhan, para imam Masjid Nabawi membaca tiga juz dari Al-Quran dangan bacaan tartil. Berbeda dengan sekarang di mana para imam hanya membaca satu juz. Ketika itu, aku shalat dan ternyata di hadapanku ada seorang dari Indonesia yang juga ikut shalat malam. Yang menarik perhatianku, ternyata orang tersebut kakinya buntung satu. Tatkala berdiri dia hanya bertopang pada satu kakinya. Sungguh menakjubkan, kita yang memiliki dua kaki merasa kelelahan menunggu imam menyelesaikan bacaan tiga juz dalam sepuluh rakaat, sementara orang Indonesia ini meskipun hanya bertopang pada satu kaki tetapi semangatnya yang begitu luar biasa; sama sekali tidak bergeming selama shalat, tidak terjatuh atau tertatih-tatih. Keimanan yang luar bisa yang menjadikannya kuat untuk bertahan berjam-jam melaksanakan shalat Tarawih.”

Kisah yang luar biasa ini beberapa kali saya dengar dari Syaikh tatkala memotivasi murid-muridnya untuk semangat beramal. Timbul kebanggaan dalam diri saya mengetahui orang yang beliau contohkan itu berasal dari Indonesia, namun sekaligus timbul rasa malu dalam diri saya, mengapa saya tidak semangat beribadah seperti orang yang buntung tersebut? 

Manhaj Nabi??!!

Suatu ketika saat Syaikh mengisi pengajian, ada orang yang bertanya kepada beliau, “Ya Syaikh, bagaimanakah manhaj Nabi?”

Pertanyaan ini unik karena diajukan saat santer-santernya fitnah tahdzir-mentahdzir di Arab Saudi, dan orang tersebut tentunya berniat baik ingin mengetahui bagaimanakah manhaj yang benar sehingga ia bisa berada di atas manhaj yang lurus sehingga selamat di tengah badai tahdzir dan fitnah. Namun, apa jawaban Syaikh? 

Beliau berkata, “Manhaj Nabi sudah jelas dan diketahui. Nabi bangun tengah malam lantas shalat malam. Menjelang shubuh beliau bersahur, lalu beristighfar menunggu shubuh. Kemudian beliau shalat Shubuh berjamaah. Setelah itu beliau duduk di masjid, berdzikir hingga waktu syuruq, lalu shalat dua rakaat. Jika tiba waktu dhuha beliau shalat Dhuha, dan seterusnya. Beliau bersedekah, mengunjungi orang sakit, membantu orang yang kesusahan, menjamu tamu… dan seterusnya. Manhaj beliau ma’ruf.”

Demikian kira-kira jawaban beliau. Jawaban yang mengingatkan sebagian kita yang menyukai tahdzir-mentahdzir agar jangan lupa beramal. Jangan sampai kita yang mengaku di atas manhaj yang benar dan memberikan porsi yang besar terhadap manhaj, lantas lalai dari beramal shalih. Jangan sampai kita yang semangat mentahdzir kesalahan orang lain, ternyata orang yang kita tahdzir tersebut lebih perhatian terhadap amal daripada kita.

Saya teringat nasihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah terhadap orang yang suka mentahdzir tapi kurang suka beramal, sementara orang yang ditahdzir justru lebih semangat dalam beramal. Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan banyak orang-orang yang mengingkari bid’ah-bid’ah ibadah dan adat, engkau dapati mereka muqashir (kurang) dalam mengerjakan sunah-sunah dari hal yang berkaitan dengan ibadah, atau dalam ber-amar makruf, menyeru manusia untuk mengerjakan sunah-sunah tersebut (yang berkaitan dengan ibadah). Dan, mungkin saja keadaan mereka, yang mengingkari bid’ah namun tidak mengerjakan banyak sunah Nabi, justru lebih buruk dari keadaan orang yang melakukan ibadah yang bercampur dengan suatu kemakruhan (Maksud ibnu Taimiyyah dengan kemakruhan di sini adalah kebid’ahan sebagaimana sangat jelas dalam penjelasan beliau sebelumnya-pen). Bahkan, agama itu adalah amar makruf dan nahi mungkar, dan tidak bisa tegak salah satu dari keduanya kecuali jika bersama dengan yang lainnya. Maka tidaklah dilarang suatu kemungkaran kecuali diperintahkan suatu kemakrufan.” (Iqtidho’ As-Shirootil Mustaqiim II/126.) 

Madinah, 19 04 1432 H / 24 03 2011 M

Penulis: Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda (firanda.com)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.